special last chapter : Pacaran dapet pahala, mau?
Hai brow! Weis, tampang loe agak sedikit beda dari waktu lulus dulu.”
“Hai! Beda apanya? Sama aja meur..”
“Sama sapa loe ke sini?”
“Sendiri ajah..”
“Sendiri? Emang mana cewe loe?”
“Gua belon punya cewe”
“Jiaaahhh… Hari gini belon punya cewe? Ga gaol loe! Jangan bilang loe ga laku lagi.. Yahahahaha..”
“Si aduh.. Sembarangan aja kalo bicara. Gua lagi ngumpulin poin buat beli tiket aktivasi pahala pas pacaran ntar.. Jadi, pas ntar gua pegangan tangan ama tangan mulus cewe gua, rangkul pundaknya buat ngasih kehangatan, tatap matanya yang bak berlian yang disinari cahaya itu, pegang pipinya yang licin, dll (dan loba lagi), gua bisa terus dapet kucuran pahala seiring lamanya gua berduaan ama dia..”
“He? Emang bisa?”
“Berarti loe yang sekarang ga gaol. Hahahahaha..”
Masa remaja tu masa yang paling sulit dilupain. Ibarat gerak parabola, maka masa remaja itu merupakan titik puncaknya. Ga sedikit orang yang berapi2 kalo lagi cerita masa remajanya yang paling berkesan buat dia. Pokonya masa remaja tu episode yang paling banyak hal2 menariknya. Apalagi kalo nyangkut episode pencarian cinta. Wuihhh. Kayaknya butuh berlembar2 kertas folio buat nulisin semua pengalaman cinta masa remaja. Kisah2 yang dilalui bareng ama si dia, dan ama si dia yang lain (kalo misal udah putus ama si dia yang sebelumnya).
Memang sih, ga ada masa yang paling indah selain masa dimana letika si dia selalu ada di samping kita. Ketika kita sedih, dia selalu ada buat menghibur. Ketika kita senang, dia selalu ada untuk ikut merayakan kebembiraan. Apalagi ketika kita menghabiskan waktu ama si dia, rasanya dunia tu milik berdua. Apapun akan dilakukan untuk si dia. Perasaan senang, bangga semuanya meluap2 dalam dada kita kalo kita lagi berduaan ama dia. Susah deh buat ngungkapin perasaannya! Pokonya asik!
Bener ga?
Tapi ternyata, kalo misal kita telaah lebih jauh, cinta tu tak selamanya dapat memberikan warna kehidupan yang indah seperti yang mungkin kita bayangkan sebelumnya. Ternyata cinta itu tak lebih dari sebuah kisah semu. Indah di luar, tapi didalamnya mungkin saja berisikan berbagai macam duri, pecahan kaca, atau bahkan mungkin racun yang mematikan yang kita sendiri ga tau kapan akan berbalik menyerang kita. Eh, saya punya kisah..
Sebuah bis datang, dan kau bilang, “Wah…terlalu sumpek dan panas, nggak bisa duduk nyaman nih! aku tunggu bis berikutnya saja”
Kemudian, bis berikutnya datang. Kamu melihatnya dan berkata, “Aduh bisnya kurang asik nih dan kok gak cakep begini… nggak mau ah..”
Bis selanjutnya datang, cool dan kau berminat, tapi dia seakan-akan tidak melihatmu dan melewatimu begitu saja.
Bis keempat berhenti di depan kamu. Bis itu kosong, cukup bagus, tapi kamu bilang, “Nggak ada AC nih, gua bisa kepanasan”. Maka kamu membiarkan bis keempat pergi..
Waktu terus berlalu, kamu mulai sadar bahwa kamu bisa terlambat pergi ke kantor. Ketika bis kelima datang, kau sudah tak sabar, kamu langsung melompat masuk ke dalamnya. Setelah beberapa lama, kamu akhirnya sadar kalau kamu salah menaiki bis. Bis tersebut jurusannya bukan yang kau tuju!
Dan kau baru sadar telah menyiakan waktumu sekian lama..
Mungkin sahabat bisa menafsirkan sendiri makna kisah di atas. Nah, coba kita liat lagi arti cinta kita. Jangan2 cinta yang selama ini kita elu-elukan tidak jauh beda seperti menunggu bis doank. Naudzubillah.. Apalagi yang pacar kemarin beda ama pacar besok (maap yang merasa “tertampar”), apakah itu komitmen dari “Aku mencintaimu melebihi apapun” yang diucapkan sebelum kita menjalin cinta dengannya? Bermanis mulut di awal, merasakan nikmatnya di tengah, buang ampasnya di akhir. Itukah yang namanya cinta?!
“Selama pacaran, mereka berfikir sedang berusaha untuk saling memahami. Tapi bukan itu yang terjadi! Kenyataannya mereka berusaha untuk tampil lebih baik dari yang sebenarnya. Sehingga setiap kali mereka berbicara, sebenarnya mereka sedang menyembunyikan diri masing-masing. Mereka sedang membuat iklan untuk menggoda pembeli. Karena takut pelanggan tidak puas, akhirnya ia akan ditinggalkan.” —- Anis Matta.
Yang paling bahaya lagi kalo misal terjadi pergeseran orientasi dari aktivitas yang kita lakukan. Ketika kita tiba-tiba jadi berani karena ada si dia. Kita aktif di kelas karena ingin dapet perhatian si dia. Kita rajin belajar karena dapet motivasi dari si dia. Ibadah kita jadi hebat karena si dia selalu ngingetin. Astaghfirullah.. Kalo kita melakukan amalan karena si dia dan untuk si dia, kapan kita menabung amalan buat akhirat ntar? Yakin bakal masuk syurga?
“Pacaran tu latihan sebelum kita naik level ke pernikahan! Sebelum nikah kan kita harus saling mengerti satu sama lain terlebih dahulu.”
Yakin dengan statement itu?
Ustad Didik pernah ngasih nasihat :
Cara untuk menjadi istri yang baik adalah melalui suami. Dan cara untuk menjadi suami yang baik adalah melalui istri. TIDAK BISA MELALUI PACARAN. Pacaran hanya mengajarkan bagaimana kita menjadi pacar yang baik, bukan suami atau istri yang baik.
Pren , kita tau sendiri kalo jiwa itu mudah bosan. Kalo kita menumpahkan lebih dulu kasih sayang, mencurahkan perasaan, saling berbagi, saling memberi perhatian, sentuhan mesra, sandaran di dada, rangkulan yang hangat, bermesraan, pergi berdua, hal istimewa apa yang akan kita dapat di pernikahan malam pertama?
Ada satu kisah menarik antara Fathimah dan Ali :
“Suamiku..,” kata Fathimah, “Sebelum menikah denganmu, aku pernah menyukai seorang lelaki dan sangat ingin menikah dengannya”. Berubah rona wajah Ali mendengar kalimat ini. Cemburu, marah, penasaran bercamur menjadi satu. Tapi tetap dengan kelembutannya dia berkata, “Apakah kau menyesal menikah denganku?” fathimah tersenyum geli melihat ekspresi sang suami. “Tidak” ucapnya pelan. “Karena lelaki itu adalah engkau….”
Indah pisan kisah di atas. Tidakkah kita merindukan saat2 seperti itu? Saat dimana kita asik bercengkrama dengan pasangan kita, namun tak ada yang melarang. Bahkan Allah pun ridha melihatnya. Subhanallah.. Dan semua itu diawali dari pengungkapan cinta di tempat yang tepat. Bandingin kalo misal kita ungkapin cinta itu sekarang ke si dia, padahal Allah tak berniat menikahkan kita dengannya, bukanya cuman rasa sakit doank yang akan dan kita rasa?
Udah mah cintanya semu, kita saling menipu satu sama lain, manfaat yang didapat hanya bertahan sementara, hanya penyesalan yang didapat di akhir, belon tentu jadi nikah atau ngga pula, dosa pun terus masuk ke rekening bekal akhirat kita. Wah, setan terbahak-bahak pisan tah nertawain kita!
Naudzubillah..
So, kalo ada pacaran yang bisa nambah pahala, ngapain masih mertahanin pacaran yang malah terus2an masukin dosa ke rekening bekal akhirat kita?
Satu-satunya pintu buat ngeaktifin pahala yang terus mengalir selama kita dan pasangan kita berduaan adalah : MENIKAH!
Rasul bersabda : “……dan mendatangi istrimu adalah sedekah.” Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah jika seseorang memenuhi kebutuhan syahwatnya itu pun juga mendapat pahala?” Beliau bersabda, “Apa pendapatmu apabila ia ditempatkan di tempat yang haram? Apakah dia akan mendapat dosa? Demikian pula apabila ditempatkan di tempat halal, maka baginya pahala.” (HR Muslim)
Tak ada kata terburu-buru. Tak ada kata belum mampu. Tak ada kata takut. Untuk menyempurnakan setengah agama, dan untuk menjaga kesucian diri dari racun-racun yang sudah dari jauh hari setan siapkan. Satu-satunya pintu gerbang kebahagiaan sebelum kita merasakan nikmatnya surga yang tiada tara kelak.
Tak ada waktu untuk menunda
Jika engkau memang telah siap
Maka apalagikah alasan
Yang bisa engkau berikan
Untuk memaafkan dirimu sendiri?
Bukankah jika engkau miskin
Allah berjanji akan memberi
Kecukupan padamu?
— cover buku Saatnya Untuk Menikah
Wallahu’alam bisshowab..
sumber : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3815668
Explore posts in the same categories: Tak Berkategori